Petani Kepohagung Belajar Langsung Memahami Kondisi Lahan di Sawah Jalur Pipa

Avatar admin

Cara bertani di Desa Kepohagung, Kecamatan Plumpang, kini mulai bergerak ke arah yang lebih terarah. Tidak lagi sekadar mengikuti kebiasaan turun-temurun, sejumlah petani mulai menyesuaikan cara mengelola sawah berdasarkan kondisi lahan yang mereka temui langsung di lapangan.

Kini, petani tidak hanya mengandalkan pengalaman lama, tetapi mulai mempertimbangkan kondisi tanah sebagai dasar dalam menentukan langkah bertani. Perubahan ini dirasakan langsung oleh Lasminto, petani penggarap di kawasan jalur pipa.

Dulu, Lasminto mengaku sebagian besar keputusan bertani diambil berdasarkan kebiasaan dan pengalaman yang sudah turun-temurun, tanpa memahami kondisi tanah secara lebih detail. Namun kini, ia mulai menyadari bahwa setiap lahan memiliki karakter yang berbeda.

โ€œDulu ya ikut kebiasaan saja, sekarang mulai paham kalau tanah itu beda-beda,โ€ ujarnya di sela kegiatan lapangan.

Perubahan cara pandang ini tidak lepas dari kegiatan edukasi pertanian yang dilakukan langsung di area sawah. Petani tidak hanya menerima materi, tetapi juga diajak berdiskusi serta melihat langsung kondisi lahan yang mereka kelola sehari-hari.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program yang diprakarsai ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bekerja sama dengan Yayasan ELSAL Indonesia, yang fokus pada pendampingan petani di sekitar jalur pipa. Dalam prosesnya, petani mulai diperkenalkan pada cara membaca kondisi lahan secara sederhana di lapangan, salah satunya melalui praktik pengukuran pH tanah.

Dari proses tersebut, petani mulai memahami bahwa perbedaan kondisi tanah berpengaruh pada cara pengelolaan lahan, termasuk dalam menentukan jenis pupuk serta perlakuan yang dibutuhkan agar kesuburan tanah tetap terjaga sesuai kebutuhan tanaman.

Antusiasme petani terlihat dari keterlibatan aktif selama kegiatan berlangsung. Berbagai pertanyaan muncul terkait pengelolaan lahan, pengendalian hama, hingga cara mengefisienkan penggunaan input pertanian. Diskusi berlangsung terbuka, sehingga pengalaman petani menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran di lapangan.

โ€œKalau sudah tahu kondisi tanahnya, kita jadi lebih yakin langkah yang harus dilakukan di sawah,โ€ tambah Lasminto.

Pendampingan di lapangan ini menjadi bagian dari proses penguatan kemampuan petani dalam memahami kondisi lahan dan mengelola pertanian secara lebih efektif dan aman di sekitar jalur pipa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *