TUNAS TANI, Inovasi eL-SAL Dorong Pertanian Berkelanjutan di Kabupaten Tuban

Avatar admin

Tuban, 13 April 2026 โ€” Upaya mendorong praktik pertanian berkelanjutan terus dilakukan melalui pendekatan edukatif langsung ke lapangan. Yayasan eL-SAL Indonesia bersama tim ahli pertanian menggelar kegiatan bertajuk โ€œTukar Ilmu, Teknologi, dan Inovasi Pertanian (TUNAS TANI)โ€ bagi petani penggarap di jalur pipa ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), yang berlokasi di Desa Pekuwon, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pertanian Berkelanjutan dan Aman Tahun 2026 di Kabupaten Tuban yang dilaksanakan oleh Yayasan eL-SAL Indonesia sebagai mitra ExxonMobil Cepu Limited ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Program ini dirancang untuk mendorong sistem pertanian yang lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan, khususnya di wilayah sekitar operasional jalur pipa di Kabupaten Tuban.

Melalui pendekatan partisipatif, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga membuka ruang dialog atas persoalan nyata yang dihadapi petani di lapangan.

Kegiatan yang berlangsung di lahan pertanian padi ini dikemas dalam suasana santai namun tetap substantif. Tim Susur Pipa yang diwakili M. Syihabudin bersama Tenaga Ahli Pertanian Hilal Ahmari Nur Muklis, yang akrab disapa Hilal, terlibat langsung dalam diskusi dengan para petani.

Dalam pemaparannya, Hilal menekankan bahwa pengolahan lahan menjadi kunci awal yang kerap diabaikan dalam praktik pertanian.

โ€œSeringkali petani ingin hasil cepat, tapi lupa bahwa kunci awal ada di pengolahan tanah. Kalau struktur tanah baik, kebutuhan pupuk bisa ditekan dan tanaman lebih tahan terhadap serangan,โ€ jelasnya.

Ia juga mendorong petani untuk mulai beralih secara bertahap ke penggunaan bahan alami dalam pengendalian hama.

โ€œPestisida nabati bukan berarti kalah efektif. Justru jika digunakan secara rutin dan tepat, dapat menekan biaya sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem,โ€ tambahnya.

Selain itu, petani juga mendapatkan pemahaman terkait penyusunan jadwal tanam sesuai kondisi wilayah, teknik pengendalian hama dan penyakit pada tanaman padi serta jagung, serta pemanfaatan pupuk organik dari kotoran hewan (KoHe) sebagai alternatif yang lebih ekonomis dan berkelanjutan.

Diskusi petani dalam kegiatan โ€œTUNAS TANIโ€ di Desa Pekuwon.

Di tengah sesi diskusi, suara petani menjadi gambaran nyata kondisi lapangan. Wani (67), petani asal Dusun Pekuwon, mengaku telah lebih dari 20 tahun menggeluti sektor pertanian. Ia kini mulai menerapkan pola semi-organik dengan mengombinasikan pupuk kimia dan pupuk organik dari kotoran sapi.

Namun, menurutnya, tantangan bertani saat ini tidak lagi sesederhana persoalan teknis budidaya.

โ€œSekarang itu bukan soal bisa nanam atau tidak, tapi bagaimana bertahan. Harga jual sering tidak pasti, biaya pupuk naik, belum lagi hama. Kalau tidak ada cara baru, petani bisa kewalahan,โ€ ujarnya.

Ia menilai kegiatan seperti ini menjadi ruang penting bagi petani untuk belajar sekaligus mencari solusi yang dapat langsung diterapkan di lapangan.

โ€œYang seperti ini yang kami butuhkan, bukan hanya teori, tapi langsung bisa dicoba di sawah,โ€ tambahnya.

Kegiatan ini memperlihatkan satu hal: persoalan petani bukan sekadar teknis, tetapi juga soal bertahan di tengah tekanan yang terus datang. Program TUNAS TANI menjadi penting bukan hanya sebagai transfer ilmu, tetapi sebagai jembatan agar petani tidak ditinggalkan menghadapi perubahan sendiri.

Di tengah ketidakpastian, petani dihadapkan pada pilihan yang semakin sempit: beradaptasi atau tertinggal. Tanpa pendampingan yang berkelanjutan, perubahan menuju praktik pertanian yang lebih efisien dan ramah lingkungan berisiko berhenti sebagai wacana, bukan menjadi praktik nyata di tingkat lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *