Perubahan iklim, penurunan kualitas lahan, meningkatnya biaya produksi, hingga berkurangnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian menjadi tantangan yang dihadapi banyak negara, termasuk Indonesia. Pola musim yang semakin sulit diprediksi, kekeringan yang lebih panjang, serta meningkatnya risiko serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) membuat petani harus beradaptasi dengan kondisi yang terus berubah. Di tengah berbagai tantangan tersebut, agroekologi semakin banyak diperbincangkan sebagai salah satu pendekatan yang mampu menjawab kebutuhan pembangunan pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga berkelanjutan.
Agroekologi merupakan pendekatan pertanian yang menggabungkan prinsip-prinsip ekologi dengan praktik pertanian. Pendekatan ini memandang lahan pertanian sebagai sebuah ekosistem yang saling terhubung, di mana tanah, air, tanaman, hewan, manusia, dan lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan produksi pangan. Tujuannya tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga menjaga kesehatan tanah, melestarikan keanekaragaman hayati, memperkuat ketahanan petani terhadap perubahan iklim, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan.
Dalam beberapa tahun terakhir, agroekologi mendapat perhatian yang semakin besar dari berbagai lembaga pembangunan internasional. Hal ini tidak terlepas dari meningkatnya tekanan terhadap sektor pertanian akibat perubahan iklim dan degradasi sumber daya alam. Ketergantungan yang tinggi terhadap pupuk dan pestisida sintetis tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas tanah apabila tidak diimbangi dengan praktik pengelolaan lahan yang baik. Karena itu, agroekologi hadir sebagai pendekatan yang menekankan efisiensi penggunaan sumber daya, pemanfaatan potensi lokal, serta penguatan ketahanan ekosistem pertanian.
Selain persoalan lingkungan, sektor pertanian Indonesia juga menghadapi tantangan regenerasi petani. Hasil Sensus Pertanian 2023 menunjukkan bahwa jumlah petani milenial di Indonesia mencapai sekitar 6,18 juta orang atau 21,93 persen dari total petani nasional. Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku pertanian masih didominasi kelompok usia yang lebih tua. Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat keberlanjutan produksi pangan nasional sangat bergantung pada hadirnya generasi baru yang mampu membawa inovasi, teknologi, dan cara pandang baru dalam pengelolaan usaha tani.
Jawa Timur sebagai salah satu lumbung pangan nasional juga menghadapi tantangan yang sama. Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023, Jawa Timur memiliki 5.531.730 rumah tangga usaha pertanian, jumlah terbesar di Indonesia. Di sisi lain, Jawa Timur juga menjadi provinsi dengan jumlah petani milenial terbanyak di Indonesia, yaitu mencapai 971.102 orang atau sekitar 15,71 persen dari total petani milenial nasional. Data ini menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal besar untuk mendorong transformasi pertanian yang lebih inovatif dan berkelanjutan apabila potensi generasi muda dapat diberdayakan secara optimal.
Dalam konteks pembangunan pertanian berkelanjutan, banyak program internasional kini menghubungkan tiga agenda besar sekaligus, yaitu agroekologi, pemuda, dan perempuan. Jika perubahan iklim membutuhkan solusi melalui agroekologi, maka krisis regenerasi petani membutuhkan keterlibatan generasi muda. Sementara itu, ketimpangan akses dan manfaat pembangunan pertanian membutuhkan penguatan peran perempuan sebagai aktor penting dalam sistem pangan.
Generasi muda memiliki peluang besar menjadi motor transformasi pertanian melalui pengembangan jasa mekanisasi pertanian, digitalisasi usaha tani, pengelolaan demplot agroekologi, produksi pupuk organik, hingga pemanfaatan teknologi untuk monitoring kondisi lahan. Kehadiran pemuda menjadi penting karena mereka memiliki kemampuan yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan inovasi pertanian modern.
Pada saat yang sama, perempuan memiliki posisi yang tidak kalah strategis dalam pembangunan pertanian berkelanjutan. Perempuan berperan dalam pembibitan tanaman, produksi pestisida nabati, pengelolaan kebun pangan keluarga, pengolahan hasil pertanian, hingga edukasi gizi keluarga. Keterlibatan perempuan tidak hanya memperkuat ekonomi rumah tangga, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan ketahanan pangan dan kualitas gizi masyarakat.
Bagi Kabupaten Tuban yang masih menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu penopang utama kehidupan masyarakat, pendekatan agroekologi menjadi semakin relevan. Tantangan perubahan iklim, efisiensi biaya produksi, serta kebutuhan regenerasi petani memerlukan strategi yang tidak hanya berfokus pada peningkatan hasil panen, tetapi juga memperkuat kapasitas petani dalam mengelola sumber daya secara berkelanjutan.
Semangat tersebut mulai tercermin melalui Program Pertanian Aman dan Berkelanjutan yang dilaksanakan Yayasan eL-SAL Indonesia bersama ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) di wilayah jalur pipa Kabupaten Tuban. Program ini mendorong petani untuk menerapkan praktik-praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan melalui sekolah lapang, demplot pembelajaran, pengamatan organisme pengganggu tanaman (OPT), penggunaan pestisida nabati, penggunaan bahan orgranik (bokashi) serta peningkatan pemahaman mengenai kesehatan tanah dan keselamatan aktivitas pertanian di sekitar jalur pipa.
“Agroekologi bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga tentang menjaga masa depan petani. Ketika petani mampu memanfaatkan sumber daya lokal secara bijak, ketika pemuda melihat pertanian sebagai peluang, dan ketika perempuan memiliki ruang untuk berkontribusi, maka kita sedang membangun fondasi pertanian yang lebih kuat untuk generasi mendatang.”
โ Imam Muqroni, Ketua Umum Yayasan eL-SAL Indonesia
Lebih dari sekadar meningkatkan pengetahuan teknis, program ini juga membangun kesadaran petani untuk memanfaatkan sumber daya lokal secara lebih optimal dan efisien. Melalui proses belajar bersama, petani diajak memahami kondisi lahannya, mengenali keseimbangan ekosistem pertanian, serta menerapkan praktik-praktik yang mendukung keberlanjutan usaha tani dalam jangka panjang.
Ke depan, pendekatan agroekologi juga membuka ruang yang lebih luas bagi keterlibatan pemuda dan perempuan dalam pembangunan pertanian di Tuban. Kelompok pemuda dapat mengambil peran melalui mekanisasi, digitalisasi, dan inovasi pertanian, sedangkan kelompok perempuan dapat memperkuat aspek pembibitan, pengembangan pestisida nabati, pemanfaatan pekarangan produktif, pengolahan hasil pertanian, dan edukasi pangan keluarga. Dengan demikian, pembangunan pertanian tidak hanya menghasilkan produksi pangan, tetapi juga menciptakan sistem yang lebih inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, agroekologi bukan sekadar konsep pertanian ramah lingkungan. Agroekologi merupakan upaya membangun sistem pertanian yang mampu menjawab tantangan perubahan iklim, menjaga produktivitas lahan, memperkuat regenerasi petani, serta meningkatkan peran perempuan dalam pembangunan pangan. Pengalaman yang mulai tumbuh melalui Program Pertanian Aman dan Berkelanjutan menunjukkan bahwa transformasi tersebut dapat dimulai dari tingkat lokal. Ketika agroekologi, pemuda, dan perempuan berjalan beriringan, maka harapan untuk mewujudkan pertanian masa depan yang produktif, aman, dan berkelanjutan bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah proses yang sedang dibangun bersama.






