TUBAN – Setiap musim tanam, pupuk menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi petani. Di saat yang sama, kotoran hewan (kohe) masih mudah dijumpai di sekitar rumah dan kandang, tetapi belum seluruhnya dimanfaatkan. Di Desa Trutup, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, keduanya mulai dipertemukan. Kohe diolah menjadi Bokashi untuk kembali dimanfaatkan di lahan pertanian.
Pengolahan tersebut dipraktikkan oleh 25 petani jalur pipa Banyu Urip dari Kecamatan Palang, Rengel, Plumpang, dan Soko melalui Program Pertanian Berkelanjutan dan Aman yang dijalankan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas dan Yayasan eL-SAL Indonesia. Pembelajaran berlangsung di Balai Produksi Bokashi Desa Trutup, Selasa (8/9/2026).
Bagi Saedi, salah seorang petani peserta, Bokashi bukan sekadar pupuk yang dipelajari cara membuatnya. Manfaatnya baru akan terasa ketika benar-benar digunakan di lahan. Ia optimistis pupuk dari bahan lokal tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan pertanian sekaligus meringankan biaya.
“Saya optimistis, kalau ini bisa kami terapkan di lahan, produksi bisa meningkat dan biaya pupuk juga lebih ringan,” tutur Saedi.
Di Balai Produksi Bokashi, petani melihat langsung bahan yang tersedia di sekitar mereka diolah menjadi pupuk. Sekitar 1,6 ton bahan diproses dan menghasilkan sekitar 1,2 ton Bokashi jadi.

Bagi Pemerintah Desa Trutup, pemanfaatan kohe mempertemukan dua persoalan yang selama ini berdekatan dengan kehidupan petani: limbah ternak yang belum banyak dimanfaatkan dan kebutuhan pupuk setiap musim tanam.
Perwakilan Pemerintah Desa Trutup, Dwi Agus Basori, mengatakan kohe yang selama ini dianggap limbah dapat memiliki manfaat lebih besar ketika diolah dan dikembalikan ke lahan sebagai pupuk.
“Selama ini kohe sebagian besar hanya menjadi limbah, sementara setiap musim tanam petani selalu khawatir tidak dapat pupuk. Kalau bisa diolah menjadi pupuk, ini akan menjadi alternatif yang baik bagi petani,” ujar Dwi Agus.
Dari pembicaraan tentang Bokashi, perhatian petani kemudian bergeser pada hal yang menentukan keberlanjutannya. Bahan baku harus tetap tersedia, produksi perlu dijaga, dan Bokashi yang dihasilkan harus benar-benar sampai ke lahan. Harapan, peluang, sekaligus kendala untuk mewujudkannya mengemuka dalam pendekatan Gender Action Learning System (GALS).
Pembahasan tersebut kemudian mengarah pada langkah yang lebih konkret. Kohe yang tersedia perlu terus dikumpulkan, proses produksi dijaga, dan Bokashi yang dihasilkan dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.
Keberadaan Balai Produksi Bokashi di Trutup juga mendapat dukungan dari Pemerintah Desa. Dukungan tersebut diberikan sejak proses pembangunan melalui pengurugan, kemudian dilanjutkan dengan penyediaan cooper dan diesel untuk mendukung proses produksi Bokashi.
Ketua Yayasan eL-SAL Indonesia, Imam Muqroni, mengapresiasi dukungan tersebut sebagai bagian dari kepedulian desa terhadap pengembangan pertanian masyarakat.
“Terima kasih kepada Pemerintah Desa Trutup yang terus mendukung pengembangan pertanian, termasuk melalui swadaya untuk pengembangan Bokashi,” ujar Imam Muqroni.
Perwakilan EMCL, Joni Wicaksono, menegaskan bahwa pengembangan praktik pertanian berbasis sumber daya lokal merupakan bagian dari komitmen perusahaan bersama SKK Migas dalam mendukung petani di sekitar wilayah operasi. Pendekatan tersebut memberi ruang bagi petani untuk mengembangkan pilihan yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan pertanian mereka.
“EMCL bersama SKK Migas terus mendukung petani di sekitar wilayah operasi untuk mengembangkan praktik pertanian yang lebih berkelanjutan, termasuk melalui pemanfaatan potensi lokal seperti kohe menjadi Bokashi,” ujar Joni.






