Praktik Pertanian Semi Organik Mulai Menyebar, Petani Enam Desa di Palang Belajar dari Demplot Sumurjalak

  • Whatsapp

Tuban – Praktik pertanian semi organik yang selama beberapa musim tanam berkembang di Desa Sumurjalak kini mulai menyebar ke desa-desa sekitar. Berbagai pengalaman petani dalam mengatasi persoalan lahan, menjaga kesehatan tanah, hingga meningkatkan produktivitas tanaman dipertukarkan melalui ruang belajar Ngudar Tani, sehingga solusi yang lahir dari satu hamparan sawah dapat diadaptasi pada wilayah lain dengan karakteristik yang serupa.

Program Pertanian Berkelanjutan dan Aman yang diinisiasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas tersebut menggandeng Yayasan eL-SAL Indonesia sebagai mitra pelaksana. Bertempat di Balai Dusun Jalak, Desa Sumurjalak, kegiatan ini mempertemukan petani dari Desa Leran Kulon, Glodog, Pucangan, Cendoro, Ngimbang, dan Gesing, Kecamatan Palang, bersama Pemerintah Desa Sumurjalak untuk saling bertukar pengalaman mengenai pengelolaan pertanian semi organik.

Ruang belajar ini berangkat dari persoalan nyata yang tengah dihadapi petani. Serangan nematoda yang mulai muncul di sejumlah lahan, perkembangan jamur tanah yang menurunkan daya tahan tanaman, hingga perubahan kondisi tanah akibat pengelolaan yang kurang seimbang menjadi bahan diskusi bersama. Pengalaman petani di Sumurjalak menunjukkan bahwa sebagian persoalan tersebut dapat ditekan melalui perbaikan kesehatan tanah, pengolahan lahan yang tepat, serta pemanfaatan input berbahan lokal yang lebih ramah lingkungan.

Berbagai praktik yang selama ini diterapkan pada lahan demplot kemudian diperkenalkan kepada peserta sebagai bahan pembelajaran. Formulasi fungisida berbahan belerang, KOH, dan garam, pengaturan dosis kapur sesuai karakteristik tanah, hingga teknik memperbaiki kondisi lahan melalui pengolahan tanah menjadi bagian dari pengalaman lapangan yang dibuka untuk didiskusikan bersama. Bagi petani, pendekatan seperti ini lebih mudah dipahami karena lahir dari praktik budidaya yang telah diuji langsung di sawah.

Inovasi lain yang turut memancing perhatian adalah pemanfaatan ZPT pengisian malai berbahan jagung manis dan obat gendar. Selain menggunakan bahan yang mudah dijumpai di sekitar petani, formulasi tersebut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai alternatif dalam meningkatkan kualitas pengisian bulir padi. Diskusi berkembang secara alami ketika para petani mulai membandingkan pengalaman di lahannya masing-masing dan mengaitkannya dengan praktik yang diterapkan di demplot Sumurjalak.

Perwakilan EMCL, Joni Wicaksono, menjelaskan bahwa pengembangan pertanian berkelanjutan tidak hanya bertumpu pada hadirnya inovasi, tetapi juga pada kemampuan petani saling berbagi pengalaman sehingga solusi yang berhasil diterapkan di satu wilayah dapat memberikan manfaat bagi wilayah lainnya.

“Ketika pengalaman petani dapat dipelajari dan diterapkan oleh petani lain, manfaat program tidak berhenti di satu lokasi. Kami berharap praktik-praktik seperti ini menjadi pengungkit produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan usaha tani masyarakat di sekitar wilayah operasi,” ujar Joni.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Yayasan eL-SAL Indonesia, Imam Muqroni, mengingatkan bahwa setiap aktivitas pertanian di sekitar wilayah operasi perlu dibangun di atas budaya keselamatan. Karena itu, penguatan pemahaman mengenai prinsip do and don’t selalu menjadi bagian dari setiap ruang belajar yang difasilitasi eL-SAL agar produktivitas pertanian berjalan beriringan dengan aspek keselamatan masyarakat.

Sementara itu, Tenaga Ahli Pertanian Yayasan eL-SAL Indonesia, Hilal Ahmari, menegaskan bahwa setiap lahan memiliki karakteristik yang berbeda sehingga tidak ada satu formulasi yang dapat diterapkan secara sama di semua tempat. Menurutnya, kemampuan petani mengenali kondisi tanah dan penyebab munculnya gangguan budidaya menjadi langkah awal sebelum menentukan perlakuan yang paling sesuai.

Ngudar Tani di Sumurjalak menjadi bagian dari upaya memperluas penyebaran praktik baik pertanian semi organik yang selama ini berkembang di lahan demplot binaan eL-SAL bersama EMCL. Melalui proses belajar antarpetani, inovasi yang lahir dari pengalaman lapangan diharapkan terus berkembang, mempercepat lahirnya solusi atas berbagai persoalan budidaya, sekaligus mendorong tumbuhnya sistem pertanian yang lebih produktif, adaptif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan di wilayah operasi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *