Keberhasilan petani dalam menekan biaya produksi melalui pemanfaatan pestisida nabati mulai menarik perhatian berbagai pihak di Desa Kepohagung, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban. BUMDes Tirto Kencono bersama Gapoktan menjadi salah satu pihak yang melihat peluang untuk memperluas pembelajaran praktik pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan kepada lebih banyak petani.
Ketertarikan tersebut diwujudkan melalui kegiatan edukasi pertanian yang akan diselenggarakan BUMDes Tirto Kencono bersama Gapoktan Desa Kepohagung, kelompok tani, Yayasan eL-SAL Indonesia, dan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) pada 8 Juni 2026. Kegiatan ini direncanakan melibatkan sekitar 35 hingga 40 petani yang akan mengikuti pembelajaran mengenai pembuatan pestisida nabati, praktik pertanian hemat biaya, serta diskusi berbagai tantangan yang dihadapi petani di lapangan.
Inisiatif ini berawal dari Program Tuntas Tani yang dilaksanakan eL-SAL Indonesia dengan dukungan EMCL pada 4 Mei 2026. Saat itu, empat petani mengikuti pendampingan dan praktik penggunaan pestisida nabati berbahan lokal sebagai alternatif untuk mengurangi biaya pencegahan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang selama ini menjadi salah satu komponen biaya terbesar dalam usaha tani.
Salah satu peserta yang merasakan manfaat program tersebut adalah Karnadi, petani padi asal Desa Kepohagung. Pada lahan seluas dua hektare yang dikelolanya, ia menerapkan pestisida nabati yang dibuat dari bahan-bahan lokal seperti daun randu, akar tuba, daun mimba, dan buah mojo. Pestisida tersebut diaplikasikan sebanyak tiga kali dalam satu musim tanam, sementara pengolahan lahan dilakukan dengan memanfaatkan pupuk kandang.
Hasil yang diperoleh cukup menggembirakan. Saat tanaman memasuki usia sekitar 60 hari setelah tanam, biaya pengendalian hama yang sebelumnya mencapai sekitar Rp1,3 juta per hektare per musim dapat ditekan hingga sekitar 60 persen. Bagi petani, penghematan tersebut menjadi semakin menarik karena meskipun biaya pengendalian hama berkurang, kondisi tanaman tetap tumbuh dengan baik sehingga petani semakin percaya diri untuk mencoba pendekatan tersebut.
Karnadi mengaku, penghematan biaya produksi menjadi manfaat yang paling dirasakan dari penerapan pestisida nabati.
โYang paling dirasakan tentu biaya produksi menjadi lebih ringan. Ini penting bagi petani karena harga kebutuhan pertanian terus mengalami kenaikan,โ ujar Karnadi.
Pengalaman tersebut kemudian menyebar melalui komunikasi antarpetani dan pertemuan kelompok tani. Di tengah meningkatnya biaya sarana produksi pertanian, keberhasilan menekan biaya pengendalian hama mendorong semakin banyak petani untuk mempelajari pendekatan serupa.
Ketua Kelompok Tani Ngudi Makmur, Listia Dwi Winarti, mengatakan bahwa ketertarikan petani muncul karena mereka melihat langsung pengalaman rekan-rekannya di lapangan. Menurutnya, kebutuhan akan alternatif budidaya yang lebih hemat semakin dirasakan petani di tengah meningkatnya biaya sarana produksi pertanian.
โPetani biasanya lebih mudah percaya ketika melihat dan mendengar langsung pengalaman sesama petani. Karena itu ketika ada yang merasakan manfaatnya, informasi tersebut cepat menyebar dan memunculkan rasa ingin tahu dari petani lainnya,โ ujar Listia.
Perkembangan tersebut turut menarik perhatian BUMDes Tirto Kencono. Direktur BUMDes Tirto Kencono, Junaedi, menilai bahwa praktik yang telah dicoba oleh petani peserta Program Tuntas Tani menunjukkan potensi yang layak untuk diperkenalkan kepada lebih banyak petani di Desa Kepohagung.
โBanyak petani menghadapi tantangan yang sama, yaitu tingginya biaya produksi. Kami melihat ada manfaat yang sudah dirasakan petani. Karena itu BUMDes ingin ikut memfasilitasi agar pengetahuan ini dapat dipelajari lebih luas dan memberi manfaat bagi lebih banyak petani di Desa Kepohagung,โ jelasnya.
Melalui kegiatan edukasi tersebut, para petani tidak hanya akan memperoleh materi mengenai pembuatan pestisida nabati, tetapi juga mengikuti praktik langsung, berbagi pengalaman lapangan, serta mendiskusikan berbagai persoalan pertanian yang mereka hadapi. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang belajar bersama untuk memperkuat kapasitas petani dalam mengembangkan alternatif budidaya yang lebih efisien dan sesuai dengan kondisi lokal.
Kolaborasi antara BUMDes Tirto Kencono, Gapoktan Desa Kepohagung, kelompok tani, eL-SAL Indonesia, dan EMCL menunjukkan bahwa inovasi pertanian dapat tumbuh dari pengalaman nyata di lapangan. Ketika manfaat dapat dirasakan secara langsung oleh petani, praktik baik tidak hanya berhenti pada individu yang telah melaksanakan praktik, tetapi juga berkembang menjadi pembelajaran bersama yang memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat desa.






