TUBAN – Demplot melon seluas 1.700 meter persegi di Desa Punggulrejo, Kecamatan Rengel, mulai memasuki fase generatif pada usia sekitar 30 Hari Setelah Tanam (HST). Tanaman melon varietas Aiko jenis rock melon hibrida tersebut dikembangkan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama Yayasan eL-SAL Indonesia sebagai bagian dari penguatan program pertanian aman dan berkelanjutan di tingkat petani.
Penanaman yang dilakukan pada 12–13 April 2026 itu melibatkan enam petani. Saat ini tanaman menunjukkan pertumbuhan relatif merata dengan tinggi rata-rata mencapai 1,8 meter. Batang tanaman terlihat kokoh dengan perkembangan sulur yang aktif mengikuti jalur rambatan.

Dalam proses budidaya, petani rutin melakukan pengikatan tanaman, pemangkasan tunas, pengamatan hama, hingga pemupukan sistem kocor untuk mendukung pembentukan dan pembesaran buah. Pada fase awal pertumbuhan buah, setiap tanaman mampu menghasilkan sekitar lima hingga enam bakal buah. Namun petani melakukan seleksi dengan mempertahankan satu hingga dua buah terbaik agar kualitas pertumbuhan tetap optimal.
Salah satu petani yang terlibat dalam pengelolaan demplot, Siswo, mengatakan budidaya melon di lahan terbuka memberikan pengalaman baru bagi petani dalam memahami karakter tanaman secara langsung di lapangan.
“Biasanya budidaya melon banyak dilakukan di greenhouse. Di sini kami belajar merawat tanaman langsung di lahan terbuka, jadi pengamatan tanaman harus dilakukan setiap hari karena cuaca sangat mempengaruhi perkembangan tanaman,” ujarnya.
Untuk menjaga stabilitas pertumbuhan, petani menerapkan metode tanam single dengan sistem trisula, yakni satu tanaman utama dipelihara dengan tiga sulur produktif. Metode tersebut diterapkan untuk membantu menjaga keseimbangan pertumbuhan tanaman dan pembentukan buah.

Selain itu, petani juga mulai menerapkan pestisida nabati untuk membantu mengendalikan kutu kebul, tungau, serta potensi serangan jamur dan bakteri. Pengelolaan lahan dilakukan menggunakan bokashi sebelum pemasangan mulsa sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi tanah selama masa budidaya.
Manager Program Yayasan eL-SAL Indonesia, Imam Muqroni, mengatakan pengembangan demplot hortikultura menjadi bagian dari upaya membangun pola budidaya yang lebih beragam di tingkat petani.
“Melalui variasi komoditas tanaman, petani dapat mengurangi risiko serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang umumnya muncul akibat pola tanam yang dilakukan secara terus-menerus pada jenis tanaman yang sama. Selain itu, pergantian komoditas juga membantu menjaga kondisi lahan karena setiap tanaman memiliki karakter perakaran dan kebutuhan unsur hara yang berbeda,” jelasnya.
Menurutnya, pengembangan hortikultura tidak hanya diarahkan untuk membuka peluang sumber pendapatan baru bagi petani, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran budidaya yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Saat ini petani masih terus melakukan perawatan intensif sambil memantau perkembangan buah di tengah kondisi cuaca yang berubah-ubah. Demplot tersebut diharapkan menjadi ruang belajar hortikultura yang dapat dikembangkan lebih luas oleh petani di wilayah sekitar.






