Gotong Royong dan Kreativitas Warnai Pengelolaan TaGiKa Desa Simo

  • Whatsapp
Penataan Botol warna warni oleh Pokja TaGiKa

Tuban – Di sepanjang bedengan Taman Gizi Keluarga (TaGiKa) Desa Simo, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, deretan botol plastik bekas yang diisi air berwarna-warni tersusun rapi membentuk batas area tanam. Sekilas tampak seperti hiasan sederhana yang mempercantik taman. Namun, di balik susunannya tersimpan cerita tentang kreativitas dan semangat gotong royong masyarakat dalam memanfaatkan kembali barang bekas agar tetap bernilai guna.

Inisiatif tersebut lahir dari semangat gotong royong yang tumbuh dalam pengelolaan TaGiKa. Saat merawat tanaman, anggota Pokja tidak hanya memastikan sayuran tumbuh subur, tetapi juga memikirkan cara menata taman agar tetap rapi, nyaman, dan menarik sebagai ruang belajar masyarakat. Dari kreativitas itulah, botol plastik bekas dimanfaatkan kembali sebagai pembatas bedengan, memperpanjang masa guna material sekaligus mengurangi potensi menjadi sampah di lingkungan.

Bacaan Lainnya

“Kami memanfaatkan botol bekas yang ada di sekitar agar tidak langsung menjadi sampah. Selain membuat taman lebih rapi, cara ini juga mengajak masyarakat melihat bahwa barang bekas masih bisa dimanfaatkan,” ujar salah satu anggota Pokja TaGiKa Desa Simo.

Bagi masyarakat Desa Simo, langkah kecil tersebut menjadi bagian dari perubahan cara pandang. Barang yang sebelumnya dianggap tidak lagi bernilai kini dimanfaatkan kembali melalui prinsip reuse, sehingga memiliki fungsi baru tanpa harus menjadi limbah. Praktik sederhana ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Semangat yang sama juga terlihat dalam pengelolaan TaGiKa yang dilakukan secara bersama-sama. Anggota Pokja secara rutin bergotong royong membersihkan area taman, merawat tanaman, menata bedengan, hingga menjaga lingkungan sekitar agar tetap produktif dan nyaman sebagai ruang edukasi. Kebersamaan tersebut menjadi modal sosial yang memperkuat keberlanjutan pengelolaan taman sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap program.

Melalui Program Pengembangan Taman Gizi Keluarga yang dilaksanakan Yayasan eL-SAL Indonesia bersama ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), masyarakat didorong tidak hanya memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan bergizi, tetapi juga membangun kebiasaan mengelola sumber daya di sekitar secara lebih bijak. Berbagai inovasi sederhana yang lahir dari masyarakat, termasuk pemanfaatan kembali botol plastik bekas, menunjukkan bahwa penguatan ketahanan pangan dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Ketua Umum Yayasan eL-SAL Indonesia, Imam Muqroni, menilai bahwa semangat gotong royong yang tumbuh di Desa Simo merupakan modal utama dalam menjaga keberlanjutan program.

“Kami percaya keberlanjutan tidak dibangun hanya melalui bantuan atau fasilitas, tetapi melalui tumbuhnya kesadaran masyarakat. Ketika warga secara sukarela merawat taman, berkreasi memanfaatkan barang bekas, dan menjaga lingkungan bersama-sama, di situlah sesungguhnya nilai Program Pengembangan Taman Gizi Keluarga hidup. Harapan kami, praktik-praktik baik seperti ini dapat menginspirasi desa-desa lain untuk membangun ketahanan pangan sekaligus kepedulian terhadap lingkungan,” tutur Imam Muqroni.

Bagi Pokja TaGiKa Desa Simo, keberhasilan taman tidak hanya diukur dari hasil panen sayuran, tetapi juga dari tumbuhnya kebiasaan untuk saling peduli terhadap lingkungan dan bekerja bersama. Dari deretan botol bekas yang kini mempercantik bedengan hingga semangat gotong royong yang terus terpelihara, TaGiKa menjadi bukti bahwa perubahan menuju desa yang lebih sehat, lebih hijau, dan lebih berdaya dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara bersama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *