Dari Kebiasaan ke Manajemen Risiko: EMCL Dorong Petani Cerdas Iklim Bersama eL-SAL

Avatar admin

Tuban โ€” Perubahan pola musim yang semakin sulit diprediksi mendorong perlunya strategi adaptif dalam praktik budidaya padi. Hujan yang datang terlambat, kemarau lebih panjang, hingga peningkatan serangan hama menjadi tantangan nyata bagi petani.

Melalui program pemberdayaan masyarakat di sektor pertanian, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) memperkuat kapasitas petani agar mampu beradaptasi dengan dinamika iklim. Bersama eL-SAL sebagai mitra pendamping teknis, pendekatan petani cerdas iklim diperkenalkan untuk menjaga stabilitas produksi dan menekan risiko kerugian.

Tenaga Ahli Pertanian eL-SAL, Hilal Ahmari, yang akrab disapa Hilal, menjelaskan bahwa dalam beberapa musim terakhir terjadi pergeseran awal tanam akibat keterlambatan hujan. Kondisi ini berdampak pada pertumbuhan awal tanaman dan meningkatkan potensi serangan hama.

โ€œPola musim tidak lagi bisa dijadikan patokan seperti beberapa tahun lalu. Petani yang masih menggunakan kebiasaan lama tanpa penyesuaian lebih berisiko mengalami kekeringan awal tanam maupun ledakan hama,โ€ jelas Hilal.

Adaptasi Dimulai dari Varietas

Salah satu langkah strategis dalam pendekatan ini adalah pemilihan varietas padi berdasarkan risiko lahan. Tidak semua varietas cocok untuk semua kondisi.

Pada lahan dengan riwayat kekurangan air, direkomendasikan varietas toleran kekeringan. Sementara di lahan rawan genangan, diprioritaskan varietas dengan ketahanan rebah dan toleransi rendaman.

Sebagai referensi teknis, varietas unggul yang dirilis oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi menjadi rujukan dalam pelatihan dan diskusi kelompok tani. Namun, pemilihan tetap mempertimbangkan karakter spesifik wilayah.

โ€œVarietas bukan soal tren. Kita lihat histori lahan, pola hujan, dan pengalaman serangan hama. Keputusan harus rasional dan berbasis kondisi lapangan,โ€ tegas Hilal.

Peremajaan Benih dan Sinkronisasi Tanam

Program pendampingan juga menyoroti praktik penggunaan benih turunan secara berulang tanpa pembaruan. Secara genetik, benih yang digunakan terus-menerus dapat mengalami penurunan vigor serta meningkatkan kerentanan terhadap penyakit seperti blast dan wereng.

Melalui pendekatan petani cerdas iklim, peremajaan benih bersertifikat secara berkala diposisikan sebagai investasi ketahanan produksi.

Selain itu, sinkronisasi jadwal tanam dalam satu hamparan menjadi perhatian penting. Perbedaan waktu tanam yang terlalu jauh terbukti memperpanjang siklus hama, karena selalu tersedia tanaman pada fase yang disukai organisme pengganggu.

โ€œKalau selisih tanam terlalu jauh, hama tidak pernah putus siklusnya. Karena itu koordinasi antarpetani menjadi kunci,โ€ tambah Hilal.

Dari Kebiasaan ke Manajemen Risiko

Ketua eL-SAL, Imam Muqroni, yang akrab disapa Imam, menegaskan bahwa perubahan terbesar bukan pada teknologinya, melainkan pada cara berpikir.

โ€œBertani hari ini harus dikelola dengan manajemen risiko. Kita identifikasi ancaman, siapkan mitigasi, dan evaluasi setiap musim. Petani harus mulai mengambil keputusan berbasis pengamatan dan pencatatan,โ€ ujar Imam.

Melalui kolaborasi ini, petani didorong untuk mulai mencatat waktu olah tanah, tanggal tanam, pemupukan, hingga munculnya gejala hama. Data sederhana tersebut menjadi dasar evaluasi musim berikutnya.

Pendekatan ini tidak hanya bertujuan menjaga produktivitas satu musim tanam, tetapi membangun ketahanan ekonomi desa yang bertumpu pada sektor pertanian. Dengan perencanaan yang lebih terstruktur, risiko gagal panen dapat ditekan dan stabilitas pendapatan petani lebih terjaga.

Melalui penguatan kapasitas secara berkelanjutan, EMCL menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor pertanian, sehingga petani tidak hanya bertahan menghadapi perubahan iklim, tetapi mampu beradaptasi dan berkembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *