Dari Sawah Sumur Jalak: Perjalanan Seorang Ibu Menjadi Teladan Petani

Avatar admin

Menumbuhkan Pertanian Inklusif dari Jalur Pipa

Awal Hari di Pematang Sawah

Pagi baru saja bergerak di Desa Sumur Jalak ketika langkah itu menyusuri pematang sawah. Udara masih basah, tanah lembap, dan padi berdiri tenang. Seorang perempuan datang ke sawah dengan penampilan rapi, mencerminkan caranya menghargai diri sendiri sekaligus pekerjaannya.

โ€œMenjadi petani tidak berarti kehilangan martabat sebagai perempuan. Justru, bertani adalah cara saya menjaga kehidupan,โ€ ujar Bu Tina.

Sawah itu berada di sekitar jalur pipa Lapangan Banyu Urip, di mana aktivitas pertanian berjalan berdampingan dengan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan. Bagi petani setempat, lahan bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga ruang belajar yang terus berkembang seiring waktu.


Sawah Sebagai Ruang Belajar dan Kehidupan Keluarga

Bu Tina, petani asal Desa Sumur Jalak, Kecamatan Plumpang, mengelola sawah di sekitar jalur pipa, tepatnya di KP 53+700. Dari lahan inilah kesehariannya bermula. Sawah telah lama menjadi bagian dari hidupnya, bukan hanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga, tetapi juga untuk belajar memahami kerja alam dan menguatkan ketahanan keluarga.

Di lahan itu, ia membaca musim, menghitung biaya, dan menakar hasil. Setiap keputusan dipertimbangkan dengan cermat:

  • Pengeluaran tidak boleh melebihi kemampuan seseorang.

  • Apa yang dihasilkan harus mampu menopang kebutuhan rumah tangga.

Sebagai ibu dari dua anak, pikirannya tak lepas dari masa depan. Anak-anaknya ia ajak mengenal sawah sejak kecil, merasakan lumpur, panas, serta memahami proses menanam dan merawat tanaman.

โ€œAnak-anak saya belajar dari sawah, bukan hanya dari buku. Di sini mereka belajar kerja keras dan cinta alam,โ€ ujarnya.


Belajar dan Berinovasi Bersama EMCL dan eL-SAL

Di tengah rutinitas bertani, Bu Tina memilih untuk terus belajar. ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama Yayasan eL-SAL Indonesia menghadirkan Program Pertanian Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan, yang menjadi ruang pendampingan bagi petani untuk menerapkan praktik bertani lebih aman, efisien, dan berkelanjutan.

Bu Tina terlibat sebagai salah satu petani demplot, aktif mengikuti berbagai kegiatan edukasi yang diselenggarakan.

โ€œDi tengah para petani laki-laki, saya belajar dan bertanya. Siapa pun bisa berkembang jika mau mencoba,โ€ katanya dengan tenang.


Praktik Bertani Ramah Lingkungan dan Dampaknya

Pengetahuan yang diperoleh Bu Tina kemudian ia terapkan di sawah dengan penuh kesabaran:

  • Pestisida nabati digunakan sebagai alternatif aman untuk tanah dan tanaman.

  • Pengamatan dan evaluasi rutin dilakukan untuk meningkatkan hasil panen.

  • Konsistensi praktik bertani memberikan manfaat nyata: kondisi lahan lebih sehat, biaya produksi lebih terkendali, dan hasil panen tetap terjaga.

โ€œBertani dengan bijak bukan hanya tentang hasil, tapi tentang menjaga tanah dan lingkungan untuk masa depan,โ€ jelas Bu Tina.


Ruang Belajar Bersama Komunitas Petani

Perubahan yang terjadi tidak pernah ia ceritakan sebagai keberhasilan pribadi. Bu Tina lebih sering berbagi tentang proses bertani yang bijak, yang membuat petani lain mulai datang melihat, bertanya, dan berdiskusi. Tanpa direncanakan, sawahnya perlahan menjadi ruang belajar bersama bagi komunitas petani di sekitarnya.


Dampak Program dan Teladan Perempuan

Kisah Bu Tina menunjukkan bahwa keberhasilan pertanian berkelanjutan lahir dari:

  • Keberanian untuk belajar.

  • Ketekunan dalam mencoba.

  • Keteladanan dalam berbagi.

Perempuan memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan usaha tani sekaligus menyiapkan generasi petani masa depan. Program EMCL dan eL-SAL membantu memperkuat praktik bertani ramah lingkungan melalui:

  • Pendampingan teknis secara langsung di lapangan.

  • Edukasi tentang pestisida nabati dan praktik berkelanjutan.

  • Ruang kolaboratif bagi petani untuk berbagi pengalaman.


Dari Langkah Kecil Menjadi Perubahan Nyata

Dari Desa Sumur Jalak, langkah kecil yang ia jalani setiap pagi menjadi gambaran tentang perubahan yang tumbuh perlahan namun pasti. Sebuah kisah tentang keteguhan hati, belajar tanpa henti, dan sawah yang menjadi ruang harapan bagi keluarga dan lingkungan.

โ€œDengan pendampingan yang tepat, ketekunan individu seperti Bu Tina mampu menggerakkan perubahan nyata di komunitas,โ€

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *