Infrastruktur Desa Jadi Pengungkit Ekonomi, Timlak Bersiap Kelola Pembangunan Secara Mandiri

  • Whatsapp

Pembangunan infrastruktur di desa membawa tanggung jawab yang lebih luas dari sekadar menyelesaikan pekerjaan fisik. Kebutuhan masyarakat menjadi titik awal, tetapi pekerjaan kemudian menuntut Timlak untuk menjaga kualitas, mengelola anggaran, dan memastikan fasilitas yang dibangun benar-benar dapat digunakan masyarakat.

Bacaan Lainnya

Cara pandang itu menjadi salah satu hal yang dibahas Tim Pelaksana Kegiatan (Timlak) dari 13 desa di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban ketika mengikuti pembekalan Program Peningkatan Akses Ekonomi melalui Perbaikan Infrastruktur Publik 2026. Pertemuan berlangsung di Balai Dusun Penebusan, Desa Kepohagung, Kabupaten Tuban, Kamis (13/8/2026).

Pembangunan desa tidak hanya diukur dari berdirinya sebuah fasilitas, tetapi juga dari bagaimana prosesnya dikelola, dipertanggungjawabkan, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Di ruangan itu, perhatian Timlak tidak hanya tertuju pada tahapan pekerjaan. Mereka juga membahas hal-hal yang akan dihadapi ketika pembangunan mulai berjalan, mulai dari pengelolaan anggaran, pengawasan pekerjaan, pencatatan perkembangan, hingga dokumentasi yang dapat merekam proses pembangunan.

Dokumentasi Menjadi Bagian dari Proses

Ketua Timlak Desa Pucangan, Karnadi, mengatakan pembekalan membuatnya melihat kembali apa yang perlu disiapkan sebelum pekerjaan dimulai. Menurutnya, memahami ketentuan menjadi lebih berguna ketika Timlak mengetahui bagaimana aturan tersebut diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari.

โ€œSelama ini kami memahami dokumentasi sebagai bagian dari pekerjaan. Setelah pembekalan ini, kami melihat bahwa yang perlu dicatat bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga bagaimana pekerjaan itu berjalan. Jadi ketika ada perkembangan atau persoalan di lapangan, kami punya catatan yang bisa kami lihat kembali,โ€

โ€” Karnadi, Ketua Timlak Desa Pucangan

Pembekalan itu memberi sudut pandang baru bagi Timlak dalam melihat pekerjaan yang akan mereka jalankan. Dokumentasi tidak lagi berhenti pada foto dan catatan setelah pekerjaan dilakukan. Perkembangan pekerjaan, aktivitas tenaga kerja, dan kondisi di lokasi menjadi bagian dari informasi yang perlu mereka rekam sejak awal agar proses pembangunan dapat dilihat secara utuh.

Bagi Timlak, cara pandang tersebut membuat pekerjaan tidak hanya diukur dari hasil akhirnya. Mereka juga perlu mengetahui bagaimana pekerjaan berlangsung, bagaimana anggaran digunakan, dan bagaimana masyarakat mengambil bagian di dalamnya. Dengan pemahaman itu, proses pembangunan menjadi sesuatu yang dapat mereka ikuti sejak awal hingga pekerjaan selesai.

Masyarakat Menjadi Bagian dari Pembangunan

Tanggung jawab tersebut berjalan beriringan dengan keterlibatan masyarakat. Ketika pembangunan dikelola di tingkat desa, warga memiliki ruang untuk mengambil bagian dalam pekerjaan yang tersedia, mengetahui perkembangan pembangunan, dan ikut mengawal fasilitas yang nantinya digunakan bersama.

Ketua Umum Yayasan eL-SAL Indonesia, Imam Muqroni, mengatakan keterlibatan masyarakat dapat menghadirkan manfaat bahkan ketika pembangunan masih berlangsung.

โ€œKetika masyarakat ikut mengambil bagian dalam pembangunan, semangat gotong royong menjadi lebih terasa. Ada pekerjaan yang bisa dilakukan masyarakat, ada pengalaman yang mereka dapatkan, dan ada manfaat ekonomi yang bisa dirasakan selama proses pembangunan berlangsung,โ€

โ€” Imam Muqroni, Ketua Umum Yayasan eL-SAL Indonesia

Manfaat itu tidak berhenti ketika pekerjaan fisik selesai. Infrastruktur yang dipilih desa akan digunakan untuk mendukung kebutuhan masyarakat, termasuk mobilitas dan aktivitas ekonomi yang berlangsung sehari-hari.

Karena itu, cara fasilitas tersebut dibangun dan dikelola menjadi penting. Keputusan yang dibuat sejak awal, kualitas pekerjaan, serta keterlibatan masyarakat akan ikut menentukan manfaat yang muncul ketika fasilitas mulai digunakan.

Program Peningkatan Akses Ekonomi 2026

Program Peningkatan Akses Ekonomi melalui Perbaikan Infrastruktur Publik 2026 diinisiasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas dan dilaksanakan bersama Yayasan eL-SAL Indonesia. Melalui program ini, pengelolaan pembangunan dilakukan dengan melibatkan masyarakat melalui Timlak di masing-masing desa.

Perwakilan EMCL, Joni Wicaksono, mengatakan pembangunan infrastruktur perlu dilihat dari manfaat yang muncul setelah fasilitas digunakan.

โ€œInfrastruktur yang dibangun hari ini harus punya manfaat yang terus berjalan setelah pekerjaannya selesai. Karena itu, sejak awal kami ingin pembangunan ini tidak hanya menjawab kebutuhan fasilitas, tetapi juga membuka ruang bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat secara berkelanjutan,โ€

โ€” Joni Wicaksono, Perwakilan EMCL

Infrastruktur akhirnya bukan sekadar soal apa yang dibangun, tetapi siapa yang mengelola dan untuk apa fasilitas itu digunakan. Ketika keputusan dan pelaksanaannya berada lebih dekat dengan masyarakat, pembangunan memiliki peluang lebih besar untuk menjawab kebutuhan sekaligus menggerakkan ekonomi desa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *