Ketika biaya sarana produksi menjadi salah satu pertimbangan dalam bertani, kemampuan menyediakan bahan organik sendiri mulai menjadi pilihan yang semakin berarti. Petani tidak selalu harus mencari bahan dari luar. Di sekitar rumah dan kandang ternak, ada sumber bahan organik yang selama ini belum banyak dimanfaatkan.
Salah satunya berasal dari kotoran sapi. Bahan yang selama ini lebih sering dipandang sebagai limbah mulai dikumpulkan dan diolah untuk menjadi bagian dari kebutuhan pertanian. Bagi petani, pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar memberi pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan bahan organik.
Di Desa Trutup, Kecamatan Plumpang, Tuban, upaya itu mulai terlihat di Balai Produksi Bokashi. Kohe sapi yang dikumpulkan dari warga kini berada dalam tumpukan yang telah ditutup setelah melalui proses pengolahan. Di balik penutup tersebut, bahan organik sedang menjalani fermentasi sebelum memasuki tahapan berikutnya.
“Yang kita dorong sebenarnya bukan hanya bagaimana membuat bokashi, tetapi bagaimana warga bisa melihat bahwa bahan organik itu ada di sekitar mereka. Kohe sapi yang selama ini dianggap limbah bisa dikumpulkan dan diolah menjadi bahan yang punya nilai untuk pertanian,”
Bagi warga, perubahan cara pandang itu menjadi bagian penting dari proses. Kohe sapi yang dihasilkan dari kandang setiap hari tidak lagi sekadar persoalan yang harus disingkirkan. Setelah dikumpulkan, bahan tersebut memiliki jalur pengolahan yang membuatnya dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan organik.
Ketersediaan bahan baku juga menjadi alasan mengapa praktik ini menarik untuk dikembangkan di tingkat desa. Selama warga masih memelihara sapi, kohe akan terus tersedia. Yang dibutuhkan adalah pengetahuan untuk mengelolanya dan tempat untuk memprosesnya.
Di sisi lain, pengelolaan kohe membawa persoalan lingkungan dan pertanian ke dalam satu rangkaian. Kotoran sapi yang sebelumnya berpotensi menumpuk di sekitar kandang mulai dikumpulkan dan memiliki tujuan pemanfaatan. Bahan yang berasal dari aktivitas peternakan itu kemudian diproses untuk menjadi bagian dari kebutuhan pertanian.
Namun, perjalanan kohe tersebut belum selesai. Setelah fermentasi, bahan masih perlu melalui proses pengolahan lanjutan sebelum dikemas dan siap digunakan. Tahapan itu menjadi bagian dari proses untuk memastikan bahan yang dihasilkan benar-benar dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan pertanian.
Pengolahan kohe sapi di Balai Produksi Bokashi Desa Trutup merupakan bagian dari Program Pertanian Berkelanjutan dan Aman yang dijalankan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas dan Yayasan eL-SAL Indonesia. Melalui program tersebut, pemanfaatan bahan organik menjadi salah satu cara untuk memperkuat pengetahuan petani dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
Di Trutup, sumber bahan bakunya tidak perlu dicari jauh. Ia datang dari kandang warga, dikumpulkan, kemudian menjalani serangkaian proses sebelum akhirnya menjadi bahan organik yang siap digunakan. Dari sini, kebutuhan pertanian bertemu dengan sesuatu yang selama ini sudah tersedia di desa, tetapi belum sepenuhnya dimanfaatkan.






