Dari Bokashi, Petani Plumpang Menata Ketersediaan Pupuk Secara Kolektif

  • Whatsapp

Harga dan ketersediaan pupuk menjadi persoalan yang terus dihadapi petani setiap musim tanam. Ketika pasokan terbatas dan harga naik, biaya budidaya ikut bertambah. Di saat yang sama, bahan yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian tersedia di sekitar rumah, tetapi belum seluruhnya kembali digunakan untuk mendukung budidaya.

Di Desa Trutup, Kecamatan Plumpang, 50 petani Kecamatan Plumpang mempelajari pemanfaatan bahan tersebut melalui Ngudar Tani. Mereka mempraktikkan pengolahan limbah organik rumah tangga menjadi lindi dan kotoran hewan (kohe) menjadi bokashi. Pembelajaran tersebut juga diikuti pembentukan kelompok pengelola untuk menangani produksi bokashi secara bersama.

Bacaan Lainnya

Praktik itu memberi petani pengalaman langsung mengolah bahan yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi bagian dari kebutuhan pertanian.

โ€œBokashi yang kemarin dipraktikkan sudah saya coba di lahan. Hasilnya memang belum langsung terlihat, tapi pupuk yang dibeli bisa dikurangi. Jadi, praktik ini terus saya lakukan sesuai kebutuhan tanaman,โ€ ujar Budi Utomo, petani Desa Trutup.

Bagi Budi, pengalaman tersebut menjadi alasan untuk meneruskan praktiknya. Penggunaan bokashi tidak dipaksakan dalam jumlah tertentu, tetapi mengikuti kebutuhan tanaman dan kondisi lahan.

Sementara itu, lindi memberi pilihan pemanfaatan bahan organik rumah tangga yang tersedia setiap hari. Sisa dapur yang sebelumnya dibuang dikumpulkan dan diolah untuk dimanfaatkan dalam kegiatan pertanian.

Kepala Desa Trutup, Slamet Widodo, melihat keberlanjutan pengelolaan menjadi bagian penting setelah petani mendapatkan pengetahuan dan praktik produksi. Balai Produksi Bokashi yang telah tersedia di desa dapat menjadi tempat produksi sekaligus dikelola sebagai bagian dari usaha kelompok.

โ€œBalai produksi ini harus terus dimanfaatkan. Produksinya dikelola dengan baik, hasilnya bisa digunakan petani. Kalau produksinya sudah berjalan dan ada lebihnya, bisa dipasarkan. Jadi ada pengelolaan dari produksi sampai pemasarannya,โ€ ujar Slamet Widodo, Kepala Desa Trutup.

Pengelolaan secara kolektif membuat produksi dapat disesuaikan dengan kebutuhan anggota. Bahan baku dikumpulkan, bokashi diproduksi, kemudian hasilnya dimanfaatkan untuk lahan petani atau dipasarkan ketika terdapat produksi yang melampaui kebutuhan kelompok.

Praktik tersebut menjadi bagian dari Program Pertanian Berkelanjutan dan Aman yang dikembangkan EMCL bersama SKK Migas dan Yayasan eL-SAL Indonesia. Pengembangan praktik pertanian di sekitar wilayah operasi berjalan berdampingan dengan perhatian terhadap keamanan jalur pipa Banyu Urip.

โ€œPertanian yang berkelanjutan harus memberi manfaat bagi petani sekaligus tetap memperhatikan keamanan jalur pipa. Satu sisi lahan dikelola secara produktif, di sisi lain aktivitas pertanian tetap berlangsung dengan memperhatikan keselamatan,โ€ ujar Joni Wicaksono, perwakilan EMCL.

Pengelolaan bersama membuat kebutuhan petani dapat dipenuhi dari produksi kelompok, sementara kelebihan hasil dapat dikembangkan menjadi peluang pemasaran. Kelompok memiliki peran untuk mengatur bahan baku, produksi, pemanfaatan, hingga pengembangan hasil sesuai kebutuhan anggotanya.

โ€œKelompok ini yang akan menjaga produksi dan pemanfaatan bokashi tetap berjalan sesuai kebutuhan petani,โ€ kata Imam, Yayasan eL-SAL Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *