Dari Dolomit hingga Garam, Cara Petani Palang Menjaga Produktivitas Lahan

  • Whatsapp

Harga pupuk nonsubsidi dan herbisida yang terus naik membuat petani di Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, menghadapi biaya produksi yang semakin tinggi setiap musim tanam. Persoalannya tidak berhenti pada biaya. Kondisi tanah yang masam atau alkalis juga ikut menentukan pertumbuhan tanaman dan hasil produksi padi.

Di Kecamatan Palang yang berbatasan dengan laut, persoalan biaya produksi dan kondisi tanah itu hadir bersamaan. Kenaikan harga sarana produksi mendorong petani mencari alternatif untuk menjaga hasil, sekaligus memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar.

Bacaan Lainnya

Alternatif itu kemudian dibawa ke ruang belajar bersama melalui Program Pertanian Berkelanjutan dan Aman yang diinisiasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas dengan menggandeng Yayasan eL-SAL Indonesia. Salah satu ruang belajarnya adalah Ngudar Tani, tempat petani bertukar pengalaman tentang pengelolaan lahan dan pemanfaatan bahan lokal untuk budidaya.

Bagi Pak Asmoro, forum semacam itu menjadi tempat untuk mendapatkan pengetahuan sekaligus membandingkan pengalaman dengan petani lain. Ia aktif mengikuti Ngudar Tani dan sejumlah kegiatan pembelajaran di wilayah lain. Dari sana, ia belajar mengenali kondisi lahannya sebelum menentukan bahan yang digunakan.

โ€œSekarang kami belajar melihat dulu masalah di lahan, baru menentukan apa yang akan dipakai. Pengalaman petani lain bisa menjadi bahan untuk kami coba di lahan sendiri,โ€ ujar Asmoro.

Yang dipelajari petani tidak berhenti di forum. Setelah membahas persoalan lahan, mereka membawa pengetahuan itu ke sawah dan mencobanya pada kondisi yang mereka hadapi. Tanah masam, misalnya, ditangani dengan kapur dolomit dan garam. Dari situ, perhatian petani tidak hanya tertuju pada bahan yang harus digunakan, tetapi juga pada bagaimana bahan pertanian bisa dibuat dari sumber daya yang ada di sekitar.

Sambutan Ketua Yayasan eL-SAL Indonesia_Imam Muqroni

Percobaan itu melahirkan beragam racikan. Asam amino dibuat dari ikan asin, terasi, gula merah, EM4, dan tetes tebu. Pada tanaman padi, racikan tersebut dimanfaatkan untuk membantu pembentukan anakan dan menjaga kondisi batang. Sementara pada tanaman hortikultura, asam amino digunakan untuk merangsang pertumbuhan tunas dan membantu tanaman beradaptasi setelah pindah tanam.

Pengalaman serupa diterapkan ketika tanaman menghadapi gangguan jamur dan patogen tanah. Petani meracik fungisida nabati dari belerang, KOH, dan garam, lalu menggunakannya sesuai kebutuhan di lahan. Bagi mereka, mencoba bahan yang bisa diracik sendiri bukan sekadar soal mengurangi ketergantungan pada produk yang harus dibeli. Ada pengetahuan baru yang diperoleh setiap kali racikan dicoba dan hasilnya diamati.

Dari lahan, pengalaman itu kembali dibawa ke sesama petani. Mereka saling bercerita tentang bahan yang digunakan, cara membuatnya, hingga hasil yang terlihat setelah diterapkan. Pertemuan dan percobaan bersama itu kemudian melahirkan Kelompok Petani Jalur Pipa Mekar Jaya sebagai ruang untuk berbagi dan mengembangkan bahan pertanian semi-organik.

โ€œKalau bahan bisa dibuat sendiri dan penggunaannya sudah dipahami, petani punya pilihan. Tidak semua kebutuhan harus dibeli,โ€ kata Kamid, petani yang aktif mengikuti pembelajaran.

Hasilnya terlihat ketika musim panen tiba. Hasil yang sebelumnya berada pada kisaran 6โ€“7 ton per hektare tercatat 7,5โ€“8,2 ton per hektare. Angka itu datang dari lahan yang dikelola dengan cara yang berbeda dari sebelumnya: petani meracik sebagian bahan sendiri, menyesuaikan penggunaannya dengan kondisi tanah, dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari proses belajar bersama.

Bagi Ketua Yayasan eL-SAL Indonesia Imam Muqroni, perubahan seperti itu justru menjadi bagian penting dari proses pendampingan. Petani tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi mengalami sendiri proses mencoba, mengamati, dan menentukan langkah berikutnya berdasarkan kondisi lahannya.

โ€œPetani perlu memahami masalah di lahannya, lalu menentukan cara yang paling sesuai. Dari situ mereka bisa mengembangkan praktik yang benar-benar mereka pahami,โ€ kata Imam.

Pengalaman bertani tersebut berlangsung di kawasan yang juga memiliki satu batas penting: jalur pipa Banyu Urip. Karena itu, pengetahuan yang dibawa petani ke lahan tidak hanya menyangkut budidaya. Cara bekerja yang aman di sekitar jalur pipa juga menjadi bagian dari pengetahuan yang perlu mereka pegang.

โ€œYang kita jaga bukan hanya hasil panennya. Petani juga harus tahu batas aman ketika bekerja di sekitar jalur pipa. Jadi produktivitas dan keselamatan harus berjalan bersama,โ€ ujar Joni Wicaksono, perwakilan EMCL.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *