Pertanian Metode SRI (System of Rice Intensification)
SRI atau System of Rice Intensification adalah metode budidaya padi yang mengoptimalkan pengelolaan tanah, air, dan tanaman untuk meningkatkan hasil dengan penggunaan input yang lebih efisien. Metode ini diperkenalkan oleh Henri de Laulaniรฉ pada tahun 1980-an di Madagaskar dan kini telah diterapkan di berbagai negara termasuk Indonesia.
SRI bukan sekadar teknik tanam, tetapi sebuah sistem yang berfokus pada tiga prinsip utama, yaitu pengelolaan tanaman, pengelolaan air, dan pengelolaan tanah. Perubahan dilakukan secara menyeluruh dalam proses budidaya untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman, efisiensi penggunaan air, serta kesehatan dan kesuburan tanah.
Secara praktik, SRI menggunakan bibit muda (7โ12 hari), ditanam satu batang per lubang dengan jarak lebih lebar (sekitar 25 x 25 cm atau lebih). Pengairan tidak dilakukan terus-menerus, tetapi dengan sistem basahโkering. Pemupukan mengutamakan bahan organik, dan penyiangan dilakukan untuk menjaga kesehatan tanah.
Komponen Utama SRI
| Komponen | Praktik SRI | Dampak |
|---|---|---|
| Tanah | Kompos dan pupuk kandang | Tanah gembur, akar kuat |
| Tanam | 1 bibit per lubang, jarak lebar | Anakan lebih banyak |
| Air | Basahโkering (tidak tergenang terus) | Hemat air, akar sehat |
| Hama | Nabati dan musuh alami | Biaya lebih efisien |
| Nutrisi | Kompos, POC, MOL | Tanah lebih aktif |
| Waktu | Konsisten 2โ3 musim | Hasil lebih stabil |
Perbandingan Produksi dan Biaya
| Aspek | Konvensional | SRI |
|---|---|---|
| Produksi | 5โ6 ton/ha | 7โ9 ton/ha |
| Biaya Pupuk | Tinggi (kimia dominan) | Lebih rendah (organik lokal) |
| Biaya Air | Tinggi | Lebih hemat |
| Tenaga Kerja | Standar | Sedikit lebih tinggi di awal |
| Ketergantungan Input | Tinggi | Lebih mandiri |
| Stabilitas Hasil | Fluktuatif | Lebih stabil |
Hasil Penelitian Usahatani
Sebuah penelitian usahatani padi sawah menunjukkan:
- Produksi SRI: sekitar 8 ton/ha
- Produksi konvensional: sekitar 5 ton/ha
Biaya produksi:
- SRI: sekitar Rp 12.009.668/ha
- Konvensional: sekitar Rp 8.053.959/ha
Pendapatan:
- SRI: sekitar Rp 22.807.432/ha
- Konvensional: sekitar Rp 13.908.004/ha
Kesimpulan
SRI menunjukkan bahwa pertanian tidak hanya ditentukan oleh input, tetapi oleh sistem pengelolaan secara menyeluruh.
Meskipun biaya awal lebih tinggi, SRI memberikan hasil produksi dan pendapatan yang lebih besar serta lebih efisien dalam jangkaย panjang pada usahatani.
Sumber:ย Analisis Perbandingan Usahatani Padi Sawah Sistem SRI dan Konvensional (Neliti)


Tinggalkan Balasan