BOJONEGORO – Yayasan eL-SAL Indonesia bersama IDFoS Indonesia menggelar diskusi mengenai pengembangan pertanian hortikultura di ruang rapat kantor IDFoS Indonesia pada Rabu siang (13/5/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Hilal Ahmari, praktisi pertanian, sebagai narasumber utama untuk berbagi teknik dan inovasi pertanian yang adaptif terhadap kondisi lahan dengan karakter geografis beragam.
Diskusi ini menjadi ruang bersama untuk membaca potensi pertanian pada wilayah dengan karakter bentang alam yang kompleks, mulai dari kawasan perbukitan, lahan berbatu, hingga area dengan variasi kedalaman tanah yang berbeda di sejumlah titik. Kondisi tersebut dinilai turut mempengaruhi kemampuan tanah dalam menyimpan air serta tingkat kesuburan alami pada setiap wilayah.
Karena itu, pengembangan pertanian dipandang memerlukan pendekatan yang lebih rinci dan berbasis kondisi lapangan, bukan menggunakan pola yang seragam.
Berangkat dari pembahasan tersebut, eL-SAL dan IDFoS menekankan pentingnya pendekatan berbasis data spasial dalam memahami karakter wilayah secara menyeluruh, termasuk keterkaitan antara topografi, struktur tanah, vegetasi, dan kondisi hidrologi.
Direktur IDFoS Indonesia, Joko, mengatakan bahwa diskusi tersebut juga menjadi ruang berbagi teknik dan pengetahuan pertanian yang memungkinkan diterapkan sesuai karakter wilayah.
Dalam sesi pemaparan materi, Hilal Ahmari menjelaskan pentingnya perbaikan kualitas tanah melalui pendekatan fisik dan biologis, terutama pada wilayah dengan kondisi tanah padat dan dominasi batuan tertentu.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan material seperti zeolit dan bokashi dapat membantu meningkatkan kandungan humus sekaligus memperbaiki struktur tanah agar lebih gembur dan memiliki sirkulasi udara yang lebih baik. Menurutnya, pendekatan tersebut juga dapat membantu menjaga kelembaban serta ketersediaan unsur hara sehingga lebih adaptif terhadap kondisi lahan spesifik.
Selain itu, diskusi turut membahas sejumlah parameter teknis seperti kemiringan lereng, jenis batuan, kapasitas infiltrasi tanah, hingga klasifikasi kemampuan lahan sebagai bagian dari analisis pengembangan pertanian berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, eL-SAL dan IDFoS berharap dapat memperkuat kerangka pemikiran ilmiah dalam membaca potensi pertanian pada wilayah dengan karakter lahan yang kompleks sekaligus membuka ruang kolaborasi keilmuan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan di masa mendatang.






